posting subuh hari: The Burden

It was never explicitly said but once. But it left me a big fat scar.

Apapun prestasi yang saya kejar, apapun hal yang saya tempuh, saya cuma ingin orang tua saya bangga ke saya.

Dulu, saya bakal nangis dan galau berhari-hari kalau saya nggak masuk ranking 3 besar. Saya bakal kesel setengah mati kalau saya nggak menang lomba bahasa inggris. Saya bakal merana kalau saya nggak jadi apa-apa. Kenapa? Karena perasaan waktu mama papa jemput pulang ambil rapor, atau dari lomba, terus tau kalau saya menang atau ranking 3 besar, atau bahkan lihat sendiri waktu pengumumannya, itu sungguh luar biasa.

Saya tau persis saya bukan anak yang menurut atau baik-baik di rumah, menurut standar orang tua saya. Saya bukan anak yang rajin bersih-bersih rumah (atau kamar), saya bukan anak yang rajin bantu masak, saya bukan anak yang langsung melaksanakan yg diminta ortu. Saya bawel, pedes, ketus, ngelawan, kepala batu, mengulang-ulang kesalahan dan nggak bisa dikasih tahu. Semakin dipaksa, semakin saya nggak lakukan. Dan untuk ukuran ortu saya yang lumayan ultraconservative, saya uncontrollable. Bahkan kadang oleh saya sendiri.

Nah, karena itulah. Saya tau saya ini anak yang menyusahkan. Itu juga sering diucap sama ortu saya. Saya tau saya ini secara personal sering mengecewakan ortu saya. Makanya, saya berusaha sekuat tenaga, di luar itu, saya ingin buat ortu saya bangga dan bahagia.

Boleh lah saya sombong sedikit…
Saya ikut lomba ini-itu dari SMP. Saya juara ini-itu. Mulai tingkat ecek-ecek sampai kelas internasional. Saya tampil di sini-di situ. Koran ini koran itu. TV ini TV itu (TV lokal sih…). Manggung sini manggung situ. Menang pageant ini pageant itu. Cumlaude di sini cumlaude di situ (saya pernah kuliah dobel). Beasiswa ini beasiswa itu. Bisnis ini bisnis itu. Jadi ini jadi itu.

Tapi kadang, kalau bandel saya kumat, ortu saya selalu bilang: “Percuma semua itu yang kamu hasilkan kalau kamu sama ortu seperti ini, kalau di rumah kamu nggak bisa apa-apa. Semuanya itu fana. Percuma punya anak yang pinter doang tapi akhlaknya….” Dan seketika, saya selalu merasa nggak berarti.

Dalam hati saya bilang: “Saya bukan anak yang sempurna, yang bisa bagus di semua hal. Saya berusaha, tapi jangan dipaksa. Dan sembari berusaha menjadi seperti yang diinginkan kedua ortu saya, saya akan berjuang di bidang yang saya memang mampu sampai menjadi yang terbaik disana. Biar saya jadi anak yang nggak percuma. Biar saya nggak jadi anak yang bisanya cuma nyusahin aja. Biar saya nggak jadi beban orang tua.

———————

Perth, Agustus 2004.

Di sinilah saya berdiri, numpang di rumah seorang nenek lanjut usia yang tinggal sendirian. Beliau sudah sakit-sakitan.
I’m not very good at house thingy, you see. Saat itu semua -semua- yang saya lakukan di mata beliau salah. Tempat saya naruh celana dalam salah. Tempat saya naruh gelas air putih salah. Cara saya nyuci baju nyuci piring salah. Bahkan keadaan saya, cewek 17 tahun, merantau sendirian seberangi laut, juga salah. Saya cerita tentang sekolah salah. Saya kangen Indonesia salah. Saya email mama saya pakai bahasa Indonesia, juga salah. Dan beliau selalu bilang: “Bahkan anak-anak saya pun bilang jangan waktu saya memutuskan menampung anak pertukaran pelajar.” Then again, I disappointed someone who took care of me. And I felt like I was a burden.

—————————–

Dan di suatu titik, yang saya nggak akan cerita banyak. Kalau tadi adalah orang yang merawat saya, kali ini orang yang saya rawat lah yang berbalik pada akhirnya menganggap saya beban. Dan secara eksplisit mengucap: “Kamu beban buat saya.”

———————————

Itulah segelintir cerita beban saya. Dan itulah mengapa saya drop saat menangkap persepsi saya ini beban/menyusahkan orang sekitar saya. No, I don’t wanna be another burden.

Advertisements

One thought on “posting subuh hari: The Burden

  1. elnino says:

    numpang komen euy
    jadi inget kata2 ibunya superman,
    “meski jika kau bisa melihat seisi dunia, belajarlah menutup mata sejenak” kalo aku sih memahami dg ~> meski jika kita bisa meraih segala yg kita ingin, ada kalanya kita melihat kedalam diri kita ttg esensi keberadaan diri n orang sekitar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s