#2

Heyya!

Yay! Posting kedua πŸ˜€

Hari ini saya ingin cerita tentang kenapa kemarin saya memilih untuk berwirausaha daripada bekerja.

Sebelum saya lulus kuliah, saya berwirausaha sekaligus sempat bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi sebagai Search Agent Community selama kalau tidak salah 3 atau 4 bulan. Tugas saya adalah berinteraksi dengan anak-anak sekolah dan guru-gurunya, untuk membentuk komunitas pemakai provider tsb di sekolah-sekolah. Mulanya saya sangat menikmati pekerjaan ini. Tapi setelah beberapa paycheck dan lembur, saya tahu saya harus melakukan yang lain. Dan kontrak pun berakhir. Saya mengerjakan skripsi saya. πŸ™‚

Lalu saya lulus. Masih mengerjakan usaha kaos. Lalu saya mengingat jam-jam yang membuat saya “harus” berada di kantor atau bekerja. Bukan karena saya ingin mengerjakannya, tapi karena harus. Dan harus disini bukan harus yang menyenangkan, seperti “Wah, saya harus baca majalah, karena ide saya lagi mentok,” atau “Saya harus tengok tukang sepatu saya nih, ngecek pesanan.” Rasanya bukan harus yang seperti itu.

Lalu saya sadar betapa saya hampir tidak pernah melakukan apa yang saya suka saat itu.

Dari situ, saya menyadari bahwa saya adalah orang yang sulit. Saya mudah diatur, tapi sulit bergerak bila saya merasa kurang suka. Dan apabila saya suka, saya tidak perlu diatur, saya akan lari sendiri mencari jalan.

Saat itu, saya tidak menikmati bangun pagi bila tujuannya adalah untuk ke kantor. Mengapa? Karena saya merasa apa yang saya kerjakan di kantor saat itu lebih menguntungkan perusahaan daripada menguntungkan saya. Punya siapa perusahaan ini? Saya tidak tahu. Yang jelas lembur tidak lembur gaji saya 11/12, tapi saya harus lembur.

Intinya, saya lebih suka melakukan hal yang saya sukai (well who doesn’t?). Mungkin terdengar egois saat ini, tapi let’s see, seberapa jauh keegoisan ini akan membawa saya πŸ™‚

Tapi, saat ini saya senang saat saya bangun dan tahu bahwa saya akan melakukan hal-hal yang “harus” saya selesaikan. Dan harus dalam kalimat tadi adalah harus yang menyenangkan. “Harus beli majalah terbaru” “Harus ke mall lihat sepatu apa yang sedang hip” “Harus browsing model-model sepatu dan blog fashion sebagai inspirasi” “Harus memikirkan inovasi baru dan bagaimana caranya lebih berkembang lagi”. Walau kadang ada “Harus menghadapi pegawai yang berulah” atau “Harus meladeni konsumen yang komplain”. Bahkan “Harus berhemat karena uangnya dipakai produksi”. Namun karena “harus” jenis kedua ini akan membawa saya ke lebih banyak “harus” jenis pertama, maka I’ll go through it πŸ™‚

Harus yang menyenangkan. Itulah salah satu alasan saya mengapa saya memilih untuk berkarya di bidang yang saya suka: sepatu.

Success, to me, is to wake up in the morning feeling excited on what we do then we elapse through our doors can’t wait to do what we love. Success is to work with people we love.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s